Sabtu, 12 Desember 2009

SEMANGKUK MIE

Ini sebuah kisah yang saya ambil dari blog pak lutfi:


Pada suatu malam itu, ada seorang gadis bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ia segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.

Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi, dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat ia berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata,: “Nona, apakah kau ingin semangkuk bakmi?”. “ Tetapi, aku tidak membawa uang,” jawabnya dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,” jawab pemilik kedai.”Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu.”

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi dengan sepiring sayuran. Ia segera makan beberapa beberapa suap dan kemudian air matanya mulai berlinang.”Ada apa Nona?” Tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,”Jawabnya sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenalpun memberi aku semangkuk bakmi !!. Tetapi,….

Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau seorang yang baru kukenal, tetapi begitu denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri,” katanya kepada si pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ia, menarik napas panjang, dan berkata,”Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau masih kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya ? Dan, kau malah bertengkar dengannya.”

Ia terhenyak mendengar hal tersebut.

“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut ? Untuk semangkuk bakmi dari seorang yang baru ku kenal aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperhatikan kepedulian kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”

Ia menghabiskan bakmi tersebut dengan cepat. Lalu, ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.

Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya.Akhirnya, ia memutuskan untuk mengatakan,”Ibu, aku tahu bahwa aku bersalah, maafkan aku.”

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas, mencarinya ke semua tempat. Ketika bertemu dengan ia, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Anakku, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang.”

Pada saat itu ia tidak dapat menahan air matanya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi, kepada orang yang sangat dekat kepada kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.Kita tidak boleh melupakan jasa orangtua kita kepada kita. Sering kali kita menganggap pengorbanan mereka suatu prose salami. Tetapi, kasih dan kepedulian orang tua kita adalah sebuah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir. Mereka membesarkan kita tanpa mengharapkan balasan dari kita. Pikirkanlah hal itu…………………

Manusia memang tidak ada yang sempurna, manusia banyak kesalahan, mari saling mengingatkan satu sama lainnya. Mau memaafkan dan mengampuni adalah langkah yang tepat untuk melepaskan dari beban sakit hati, dendam dan dosa.


http://septialutfi.wordpress.com

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tags

agus (2) evdo (1) hayati (1) hujan (1) humor (2) kado (1) karyawan (1) komputer (1) lucu (2) manajemen (1) mobi (1) modem (1) nur (1) semarang (2) sikap (1) spesial (1) strategy (1) sukses (1) tips (2) ultah (1) waspada (1)

Site Info

Followers

Tentang Agus Windarto Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template